Selamat Datang

Semoga blog ini bermanfaat, oleh Ita Trie Wahyuni
"Seorang PEMENANG tidak akan pernah MENYERAH, karena hanya yang MENYERAH tidak akan pernah MENANG"

Tuesday, October 2, 2012

Laporan Kimia Fisika Hukum Hess


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Banyaknya kalor yang dihasilkan dalam suatu reaksi kimia dapat diukur dengan menggunakan kalorimeter. Kalor dapat diukur dengan menggunakan jalan jumlah total kalor yang disetiap lingkungan kalor yang diserap air merupakan hasil dari perkalian antara massa, kalor jenis dan kenaikkan suhu, sedangkan kalor yang diserap komponen lingkungan lain yaitu tom, pengaduk, termometer, dan lain sebagainya. Merupakan hasil kali jumlah kapasitas kalor komponen-komponen ini dengan suhu. Dari sini dapat diketahui bahwa penjumlahan kalor dapat diterapkan melalui hukum Hess (Attkins, 1999).
     Hukum Hess adalah sebuah hukum dalam kimia fisik untuk ekspansi Hess
dalam siklus Hess. Hukum ini digunakan untuk memprediksi perubahan entalpi dari hukum kekekalan energi (dinyatakan sebagai fungsi dari keadaan DH).
     Hukum Hess menyatakan bahwa besarnya entalpi dari suatu reaksi tidak
ditentukan oleh jalan atau tahap reaksi, tetapi hanya ditentukan oleh jalan atau tahap reaksi, tetapi hanya ditentukan oleh keadaan awal dan keadaan akhir suatu reaksi. Setelah itu hukum Hess juga menyatakan bahwa entalpi suatu reaksi merupakan jumlah total dari penjumlahan kalor reaksi tiap satu mol dari masing-masing tahap atau orde reaksi. Sehingga besarnya H dapat ditentukan hanya dengan mengetahui kalor reaksinya saja. Dasar dari hukum Hess ini adalah entalpi atau energi internal artinya bersaran yang tidak tergantung pada jalannya reaksi. Suatu reaksi kadang-kadang tidak hanya berlangsung melalui satu jalur akan tetapi bisa juga melalui jalur lain dengan hasil yang diperoleh adalah sama.

1.2  Tujuan
-          Menentukan entalpi reaksi pada arah 1 dan 2
-          Mengetahui prinsip dari percobaan hukum Hess
-          Mengetahui  fungsi pengadukan dalam kalorimeter.



BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

         Lavoiser dan Laplace mengenal bahwa kalor yang diabsorbsi dalam penguraian senyawa harus sama dengan kalor yang dilepaskan dalam pembentukkannya pada kondisi yang sama. Hess menunjukkan bahwa kalor dari reaksi kimia total pada tekanan tetap adalah sama tanpa memperhatikan tahap antara yang terjadi. Prinsip ini adalah kesimpulan dari hukum Termodinamika I dan sebagai akibat bahwa entalpi adalah suatu fungsi keadaan (Farrington, 1987).
         G.H. Hess mengeluarkan hukumnya yang menyatakan bahwa jumlah aljabar panas reaksi yang dibebaskan atau diserap tidak bergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir sistem tersebut. Hukum Hess secara praktis dapat diartikan bahwa jumlah entalpi reaksi total H dapat diperoleh dengan menjumlahkan entalpi reaksi antara entalpi awal reaksi dan entalpi akhir reaksi seperti halnya reaksi kimia pada umumnya.
         Jika sebuah sistem bebas untuk mengubah volumenya terhadap tekanan luar yang tetap, perubahan energi dalamnya tidak lagi sama dengan energi yang diberikan sebagai kalor. Energi yang diberikan sebagai kalor diubah menjadi kerja untuk memberikan tekanan balik terhadap lingkungan. Pada tekanan tetap kalor yang diberikan sama dengan perubahan dalam sifat termodinamika yang lain dari sistem yaitu entalpi H (Atkins, 1999).
         Suatu reaksi kadang-kadang tidak hanya berlangsung pada satu jalur, akan tetapi bisa juga melalui jalur yang lain dengan memberikan hasil yang sama. Tetapi mungkin juga arah yang ditempuh tidak hanya satu atau dua, melainkan terdapat arah 3 dan 4 dan seterusnya. Pada percobaan ini dilihat apakah energi pada reaksi 1 sama dengan energy pada reaksi dengan arah 2. Jika natrium hidroksida dapat direaksikan dengan asam klorida (4M), maka reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
Arah 1
         NaOH(s) + aq à NaOH(aq, 4M)                                                          DH1
         NaOH(aq, 4M) + HCl(aq, 4M) à NaCl(aq, 2M) + H2O(ℓ)                        DH2
Arah 2            
         HCl(aq, 4M) + aq à HCl(aq, 2M)                                                        DH3
         HCl(aq, 2M) + NaOH(s) à NaCl(aq, 2M) + H2O(ℓ)                             DH4
Dimana :
s   = Padatan
ℓ   =  Cairan
aq =  Air ditambahkan sampai mencapai konsentrasi yang dimaksud.
         Hal yang menyebabkan perubahan entalpi suatu reaksi dapat dihitung sekalipun tidak dapat diukur secara langsung. Caranya adalah dengan melakukan operasi aritmatika pada beberapa persamaan reaksi yang perubahan entalpinya diketahui. Persamaan-persamaan reaksi tersebut diatur sedemikian rupa sehingga penjumlahannya semua persamaan akan menghasilkan reaksi yang kita inginkan. Jika suatu persamaan reaksi dikalikan (atau dibagi) dengan satu angka, perubahan entalpinya juga harus dikali (dibagi). Jika persamaan dibalik, maka tanda perubahan entalpi juga harus dibalik (yaitu menjadi -DH) (Moree, 2005).
         Selain itu, dengan menggunakan hukum Hess, nilai DH juga dapat diketahui dengan pengurangan entalpi pembentukan produk-produk dikurangi entalpi pembentukan reaktan (Attkins, 1999).
Secara sistematis
            DHo = S(DHo + produk) – S(DHof reaktan)
Untuk reaksi-reaksi lainnya secara umum
            DHo = S(DHo produk) - S(DHo reaktan)
         Hukum Hess menyatakan bahwa perubahan entalpi keseluruhan dari suatu proses hanya tergantung pada keadaan awal dan akhir reaksi dan tidak tergantung pada rute atau langkah-langkah diantaranya. Dengan mengetahui DHf (perubahan entalpi pembentukan) dari reaktan dan produknya, dapat diramalkan perubahan entalpi reaksi apapun dengan rumus.
            DH = -DHcP + DHcR
         Untuk menentukan entalpi suatu reaksitunggal maka kita bisa mengkombinasikan beberapa reaksi sebagai “jalan” untuk menentukan entalpi reaksi tunggal tersebut. Hasil akhir yang akan kita peroleh akan menunjukkan nilai yang sama, sebagai contoh:
Entalpi pembentukan NO2 dapat kita cari dari reaksi berikut.
            N2(g) + O2(g) à 2NO2(g)                                                            DH = 68 KJ
         Dengan mengetahui entalpi standar pembentukan NO2 maka kita bisa menghitung besarnya berapa nilai entalpi untuk reaksi diatas. Atau kita bisa menghitungnya dengan menggunakan kombinasi beberapa reaksi (minimal 2 reaksi dan bahkan bisa mendapatkan lebih), reaksinya sebagai berikut:
         N2(g) + O2(g) à 2NO(g)                                         DH = 180 KJ
       2NO(g) + O2(g) à 2NO2(g)                                     DH = - 112 KJ
         N2(g) + O2(g) à 2NO2(g)                                      DH = 68 KJ
         Dengan mengetahui besarnya entalpi reaksi I dan II diatas maka kita bisa mencari entalpi pembentukan NO2. Tentu saja kita harus mengatur satu reaksi dengan reaksi lain agar nantinya jika semua reaksi dijumlahkan akan diperoleh reaksi yang akan diinginkan.
         Salah satu manfaat hukum Hess adalah kita dapat menghitung entalpi suatu reaksi yang sangat sulit sekali diukur dilaboratorium. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan hukum Hess adalah
-       Kita dapat mengkombinasikan beberapa reaksi yang telah diketahui  entalpinya untuk memperoleh entalpi reaksi yang kita cari.
-       Kebalikan dari suatu reaksi mengakibatkan perubahan tanda entalpi, artinya jika suatu reaksi berjalan secara secara eksoterm maka kebalikan reaksi tersebut adalah endoterm dengan tanda entalpi yang saling berlawanan.
N2(g) + 2O2(g) à 2NO2(g)                                              DH = 68 KJ
            2NO2(g)         à N2(g) + 2O2(g)                                      DH = 68 KJ    
-       Jika suatu reaksi dikalikan dengan suatu bilangan maka entalpi reaksi tersebut juga harus dikalikan dengan bilangan yang sama.
N2(g) + 2O2(g) à 2NO2(g)                                              DH = 68 KJ
2N2(g) + 4O2(g) à 4NO2(g)                                            DH = 136 KJ  
Dengan melakukan perubahan entalpi dari suatu reaksi kita terlebih dahulu harus memahami bahwa perubahan entalpi berbanding lurus dengan jumlah zat yang terlibat dalam reaksi berbalik. Konsep ini sangat berguna dalam memahami tentang hukum Hess ini (Attkins, 1999). 
Suatu reaksi kimia yang diinginkan dapat ditulis sebagai rangkaian banyak reaksi kimia. Jika seseorang mengetahui panas reaksi yang diinginkan dapat dihitung dengan menambahkan atau mengurangi panas dari masing-masing tahap.  Prinsip ini dimana panas reaksi ditambahkan atau dikurangi secara aljabar disebut hukum Hess mengenai penjumlahan panas konstan (Farington, 1987).
Bunyi hukum Hess:
“Jumlah panas yang dibutuhkan atau dilepaskan pada suatu reaksi kimia tidak tergantung pada jalannya reaksi tetapi ditentukan oleh keadaan awal dan akhir” (Attkins, 1999)




BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan
3. 1. 1 Alat-alat
         - Kalorimeter
         - Termometer 0-100oC
         - Pengaduk
         - Corong kaca
         - Spatula
         - Neraca analitik
         - Gelas ukur 25 ml
         - Botol timbang dan ditutup
         - Pipet tetes

3. 2. 2  Bahan-bahan
         - Tissue
         - Aquades
         - HCl 4 M
         - NaOH padat

3. 2 Prosedur Percobaan
3. 2. 1 Percobaan untuk arah 1, sistem NaOH-HCl
            - Dipersiapkan alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum
            - Ditimbang NaOH padat sebanyak 4 gram dan dimasukkan kedalam botol timbang yang ditutup rapat
- Diukur masing-masing aquades dan HCl sebanyak 2 ml, dimasukkan kedalam gelas ukur
            - Dimasukkan aquades kedalam kalorimeter dan diaduk hingga suhu pada termometer terjadi perubahan, dicatat perubahannya
- Dimasukkan NaOH padat kedalam kalorimeter dan diaduk kembali,   diamati perubahan suhu yang terjadi pada termometer lalu dicatat
            - Dimasukkan HCl kedalam kalorimeter dan diaduk, setelah itu diamati dan dicatat perubahan suhu yang terjadi.

3. 2. 2 Percobaan untuk arah 2, sistem HCl-NaOH
            - Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
            - Ditimbang NaOH padat sebanyak 4 gram dan dimasukkan kedalam botol timbang  yang ditutup rapat
            - Diukur masing-masing aquades dan HCl sebanyak 25 ml
            - Dimasukkan kedalam gelas ukur
            - Dimasukkan aquades kedalam kalorimeter dan diaduk, lalu dicatat dan diamati perubahan suhunya
            - Dimasukkan HCl sebanyak 25 ml kedalam kalorimeter dan dicatat perubahan suhu yang terjadi
            - Dimasukkan NaOH padat kedalam kalorimeter dan diaduk dan dicatat perubahan suhu yang terjadi pada termometer.




BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
4. 1. 1 Tabel Pengamatan
Keterangan
Suhu Awal
Suhu Akhir
§  Arah 1
Air
Ditambahkan 4 garm NaOH
Ditambahkan HCl (aq, 4M)

28oC
33oC



41oC
§  Arah 2
Air
Ditambahkan HCl (aq, 4M)
Ditambahkan 4 gram NaOH

28oC
31oC



46oC

4. 2 Reaksi
4. 2. 1 Reaksi arah 1
            NaOH(s) + aq à NaOH(aq, 4M)                                                   DH1
            NaOH(aq, 4M) + HCl(aq, 4M) à NaCl(aq, 2M) + H2O(ℓ)                    DH2
4. 2. 2 Reaksi arah 2
            HCl(aq, 4M) + HCl(aq, 2M)                                                 DH3
            HCl(aq, 2M) + NaOH(s) à NaCl(aq, 2M) + H2O(ℓ)                          DH4

4.3 Perhitungan
4. 3. 1 Perhitungan arah 1
            n NaOH = gr / air = 4 gr / 40 0,1 mol
            m air = ρ . V
                     = 1 . 25 = 25 gram
            Q1   =  m . c . DT
                    = (mair + mNaOH) . c . DT
                    = (25 + 4) . 4,184 . (33 - 28)
                    = 606, 68 Joule

            Q2   =  m . c . DT
                   = (mair + mNaOH) . c . DT
                   = (25 + 3, 65) . 4, 184 . (41 - 33)
                   = 958, 9728 Joule

*lanjutan hitungan pada gambar*



Kesimpulan yang didapat adalah besar entalpi arah 1 sebesar 15656, 528 J/mol sedangkan besar entalpi arah 2 sebesar 21796, 548 J/mol. Terjadi perbedaan entalpi arah 1 dan arah 2. Membuktikan hukum Hess tidak tebukti pada percobaan yang kita lakukan. Karena entalpi arah 1 tidak sama dengan entalpi arah 2.

4. 4 Pembahasan
            Hukum Hess dikemukakan oleh seorang ilmuwan berkebangsaan Swiss bernama German Henri Hess (1802-1850). Beliau lahir di Jenewa, Swiss pada 07 agustus 1802. Ayahnya adalah seorang seniman. Pada tahun1805, ketika usia 3 keluarganya pindah ke Rusia, ketika itu ayahnya menjadi guru dalam keluarga kaya Moskow. DiRusia, dimana dia tetap tinggal untuk sisa hidupnya ia sebut Ivanovich Gess. Hess mulai studi medis pada tahun 1822  dan memperoleh MD pada tahun 1826. Sementara di sekolah, ia menjadi tertarik dalam kimia dan geologi, dan setelah lulus pergi ke Stockholm, Swedia untuk belajar setelah pertemuan dengan Jöns Jakob Berzelius, ahli kimia yang paling terkenal. Meskipun ia menghabiskan hampir sebulan di laboratorium Berzelius itu, Hess sangat dipengaruhi oleh dia dalam karir di kemudian hari, dan mereka tetap berteman seumur hidup dan koresponden Hess pada tahun 1826 mendirikan sebuah praktek medis di Irkusk, dimana dia melakukan sejumlah studi sumber daya mineral siberia yang mengakibatkan pemilihannya sebagai tambahan dalam kimia dari Imperial Academy Of Science di St Petersburg pada 11 Novenber 1828. Setelah kembali ke ibukota, ia menjadi akademis penuh pada tahun 1834 dan menduduki jabatan mengajar disebagian besar lembaga-lembaga kota pendidikan tinggi. Meskipun Hess, seperti kebanyakan rekan-rekannya, terlibat dengan penemuan dan analisis zat baru, ia menjadi tertarik pada aspek yang lebih teoritis kimia. Investigasi sifat afinitas kimiawi atom mengapa tertarik satu sama lain, menyebabkan dia untuk belajar jumlah panas yang dihasilkan oleh reaksi berjalan langsung atau bertahap melalui intermediet. Meskipun hal ini dapat dilihat dibelakang sebagai contoh spesifik dari hukum konservasi energi. Hess dikembangkan dua tahun sebelum Julius Robert Van Mayer dijelaskan prinsip yang lebih umum pada tahun 1842. Ketika masih dibawah pengaruh Berzelius hampir semua pekerjaan awal Hess prihatin dengan analisis zat  anorganik dan  organik. Tetapi juga menyadari masalah “teoritis konteporer”. Seperti kebanyakan ahli kimia periode, ia menerima teori atom dalton dan hukum prporsi pasti. Dia tertarik pada pertanyaan tentang sifat afinitas tetapi tidak menerima Berzelius teori elektrokimia, yang kemudian paling populer dikalangan ahli kimia. Pada awal 1830 ia mulai berfikir bahwa solusi untuk masalah afinitas dapat ditemukan dengan mempelajari jumlah panas yang berkembang dalam reaksi kimia. Hess kemudian mengambil pekerjaan kalorimetrik Lavosier dan Laplace. Dia pada awalnya tidak yakin apakah panas itu karena gerakan getaran dari partikel atau kekalori bahan substansi, tapi akhirnya memutuskan bahwa teori kalori lebih teoritis, percaya bahwa jika ia bisa menemukan contoh dari kombinasi kalori dengan unsur-unsur kimia dalam proporsi yang pasti, ia akan memperoleh pandangan yang lebih jelas dari sifat afinitas dan konstitusi dalam senyawa kimia. Dimulai studi eksperimental yang serius dengan kalorimeter es. Pada tahun 1830 dan 1840 mampu merumuskan dua hukum termokimia utama. Studi eksperimental yang serius dengan kalorimeter es pada 1838 dan 1840 mampu merumuskan dua hukum termokimia utama. Studi eksperimental yang serius panas yang berkembang dalam pembentukan hidrat berbagai asam sulfat dan dalam sejumlah reaksi netralisasi menunjukkan bahwa jumlah panas yang selalu sama apakah reaksi berlangsung secara langsung atau melaui sejumlah langkah-langkah perantara. Ini hukum penjumlah konstanta panas, jelas merupakan kasus khusus dari hukum konservasi energi, yang belum secara resmi dinyatakan. Hess melihat jelas kegunaan praktis dari hukumnya dengan menentukan memanaskan reaksi yang tidak dapat diukur secaralangsung, Hess segera menyadari pentingnya penemuan dan melanjutkan studi dibidang yang sama. Pada 1842 ia mengusulkan bahwa tidak ada panas berevolusi dengan reaksi pertukaran garam netral dalam larutan air. Dia tidak sepenuhnya menjelaskan pengamatan ini dan itu tidak sampai empat puluh lima tahun kemudian bahwa mendisosiasi ekektrolitik lebih lengkap yang dijelaskan oleh fisikawan dan kimiawan Swedia Sucinte Arrhenius. Kemudian Hess meninggal pada tanggal 13 desember 1850, pada usia relatif muda yaitu 48 tahun. German Henri Hess dicatat untuk dua prinsip mendasar teori termokimia: hukum penjumlahan konstanta panas dan hukum thermoneutrality. Ini penemuan yang luar biasa dalam, bahwa mereka mendalilkan tanpa kerangka teori yang mendukung dan mengambil tempat dalam bidang studi hampir sepenuhnya diabaikan oleh orang sezamanya. Hukum Hess adalah kepentingan praktis dan digunakan sampai sekarang untuk menentukan kadar reaksi, ketika pengukuran langsung mereka sulit atau tidak mungkin. Pekerja termokimia Hess dilanjutkan secara ekstensif pada paruh kedua abad kesembilan belas melalui studi Thomson dan Berthelot. Prinsip kedua Berthelot dari bekerja maksimal dan teori-teori termodinamika afinitas yang datang untuk menang jelas meramalkan dalam pekerjaaan Hess. Disamping penelitian internasional dikenal ditermokimia, Hess sangat berpengaruh dalam perkembangan kimia di Rusia. Teksosnovania Chistoy Khimli (“Dasar-dasar kimia murni”). Pergi melalui tujuh edisi dan berbuat banyal untuk membangun nomenklatur kimia dari bahasa Rusia. Dia selalu tertarik dalam pertanyaan teknologi dan banyak dari murid-muridnya kemudian memberikan kontribusi terhadap pembangunan industri Rusia. Pada dasarnya hukum Hess menyatakan “panas berevolusi atau diserap dalam proses kimia adalah sama apakah proses berlangsung pada salah satu atau beberapa langkah” jika dikenal sebagai hukum penjumlahan panas konstan. Selain itu berarti bahwa tidak peduli seberapa banyak langkah reaksi kimia berlangsung melaui panas total berevolusi atau diserap adalah nilai panas yang ditambahkri setiap langkah dan akan selalu menjadi sosok konstan untuk proses tersebut.
            Bunyi hukum Hess ialah “jumlah panas yang dibutuhkan atau dilepaskan pada suatu reaksi kimia tidak bergantung pada jalannya reaksi tetapi ditentukan oleh keadaan awal dan akhir. Dapat diartikan bahwa jumlah entalpi awal reaksi dan entalpi akhir reaksi seperti halnya reaksi kimia pada umumnya”
            Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi antara lain konsentrasi, sifat zat, katalisator, dan suhu.
            Konsentrasi dari berbagai percobaan menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi zat-zat yang bereaksi semakin cepat reaksinya berlangsung. Semakin besar konsentrasi semakin banyak zat-zat yang bereaksi sehingga semakin besar pula kemungkinan terjadi reaksi.
            Sifat zat yang bereaksi, sifat mudah sukarnya suatu zat bereaksi akan menentukan kecepatan berlangsungnya reaksi. Secara umum dinyatakan bahwa yang pertama reaksi antara senyawa ion umumnya berlangsung cepat, hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antara ion-ion yang muatannya berlawanan dan yang kedua reaksi antara senyawa kovalen umumnya berlansung lambat, hal ini disebabkan karena untuk berlangsungnya reaksi tersebut dibutuhkan energi untuk memutuskan ikatan-ikatan kovalen yang terdapat dalam molekul zat yang bereaksi.
            Katalisator adalah zat yang ditambahkan kedalam suatu reaksi dengan maksud memperbesar kecepatan reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi akan tetapi tidak mengalami perubahan kimiawi yang permanen dengan kata lain akhir reaksi katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi.
            Suhu, pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat bila suhu dinaikkan. Dengan menaikkan suhu, maka energi kinetik molekul-molekul zat yang bereaksi akan bertambah. Sehingga akan lebih banyak molekul yang memiliki energi sama atau lebih besar dari Ea. Dengan demikian lebih banyak molekul yang dapat mencapai keadaan transisi atau dengan kata lain kecepatan reaksi menjadi lebih besar.
            Dalam percobaan ini dilakukan pengukuran entalpi dengan menggunakan kalorimeter atau alat pengukur zat. Percobaan ini dilakukan pengukuran perubahan entalpi dengan menggunakan kalorimeter atau alat pengukur zat. Prinsip dari percobaan ini untuk membuktikan arah pada hukum Hess yaitu dua arah dalam reaksi eksoterm, yaitu arah satu dan dua. Karena menurut hukum Hess besarnya entalpi reaksi akan sama pada arah satu dan arah dua, karena nilai entalpi tidak bergantung pada jalan atau tahap reaksi, namun hanya ditentukan pada keadaan awal dan akhirnya saja. Pengukuran perubahan entalpi untuk arah pertama dilakukan dengan menjumlahkan perubahan entalpi seluruh proses terjadi pada arah satu ini yaitu sebesar 15656, 528 J/mol. Merupakan nilai total dari penjumlahan H1 dan H2. Pengukuran perubahan entalpi untuk arah kedua dilakukan dengan menjumlahkan perubahan entalpi seluruh proses terjadi pada arah dua ini yaitu sebesar 21796, 548 J/mol. Merupakan nilai total dari penjumlahan H3 dan H4
            Dari hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa percobaan yang dilakukan menyimpang dari hukum Hess atau dapat dikatakan hukum Hess tidak terbukti pada percobaan yang dilakukan, yaitu bahwa arah entalpi pertama sama dengan reaksi arah 2. Terjadinya kesalahan, kemungkinan karena kesalahan dalam prosedur atau dapat juga disebabkan karena bahan yang digunakan tidak murni lagi, dan menyebabkan hasil yang didapatkan tidak maksimal, sehingga kita tidak dapat membuktikan kebenaran hukum Hess, pada percobaan yang kita lakukan.
            Fungsi perlakuan dari percobaan ini yaitu:
-          Ditimbang NaOH padat agar sampel yang digunakan teliti berapa gram yang akan digunakan.
-         Diaduk, agar semua reagen dapat tercampur secara homogen.
-         Diukur suhunya, agar praktikan mengetahui berapa suhu yang diperoleh sehingga memudahkan dalam perhitungan.
Dalam percobaan juga digunakan beberapa reagen dengan fungsinya masing-masing yaitu:
-         Aquades berfungsi sebagai solvent dari NaOH dan HCl
-         NaOH berfungsi sebagai reagen yang bersifat basa kuat dan sangat muda terlarut dalam air, serta melepaskan panas ketika dilarutkan. Merupakan reagen yang bersifat higroskopis.
-         HCl berfungsi sebagai larutan yang bersifat asam kuat dan bersifat eksoterm atau mengeluarkan panas.
Dalam percobaan juga terdapat faktor kesalahan yang menyebabkan hasil yang didapat tidak maksimal, yaitu:
-         Dimungkinkan kesalahan dalam melakukan prosedur percobaan atau
-         Disebabkan bahan yang digunakan bahan-bahan yang digunakan telah mengikat zat kimia lainnya yang berada diudara bebas pada saat akan dimasukkan kedalam kalorimeter atau pada saat penimbangan, karena bahan yang dipakai bersifat hidroskopis (NaOH).
Bebrapa fungsi alat-alat yang digunakan dalam percobaan, yaitu:
-         Termometer berfungsi sebagai pengatur suhu yang tepat dengan ketelitian 0,1oC, sehingga didapatkan hasil yang tepat
-         Kalorimeter larutan berfungsi sebagai alat untuk mengukur jumlah kalor yang terlibat pada reaksi kimia dalam sistem larutan. Berdasarkan perubahan suhu yang signifikan kemudian diukur kalor reaksi.
-         Botol timbang dan tutup berfungsi menyimpan bahan yang akan ditimbang, agar tidak terkontaminasi oleh udara seperti NaOH yang bersifat higroskopis.
-         Gelas ukur berfungsi mengukur volume larutan pada berbagai ukuran volume.
-         Pipet ukur berfungsi memindahkan larutan dengan berbagai ukuran volume, sehingga didapatkan pengukuran yang lebih akurat.
-         Corong kaca berfungsi memudahkan dalam memindahkan cairan dari wadah satu kewadah yang lain, terutama yang bermulut kecil.
-         Neraca berfungsi sebagai alat penimbang suatu zat padat agar hasil dalam perhitungan dalam percobaan didapatkan hasil yang maksimal.
-         Pengaduk berfungsi sebagai penghomogen larutan.
-         Spatula berfungsi untuk memindahkan zat padat kedalam suatu wadah yang satu kewadah yang lainnya.
Pada percobaan ini hukum Hess tidak terbukti karena hasil yang didapatkan berbeda yaitu 15656, 528 J/mol pada arah satu dan 21796, 548 J/mol pada arah kedua. Karena entalpi arah pertama tidak sama dengan entalpi arah kedua. Ini menunjukkan bahwa percobaan yang dilakukan menyimpang dari hukum Hess. Karena kemungkinan ada kesalahan prosedur yang dilakukan oleh praktikan.
            Lingkungan adalah segala sesuatu diluar sistem, merupakan area yang mengelilingi sistem.
            Boundary sistem merupakan batasan antara sistem dan lingkungan. Secara umum dapat dituliskan sebagai berikut.
            DE  sistem + DE lingkungan = 0
            DE sistem = U + DEp + DEk
            DE lingkungan = ± Q ± W
            Sistem adalah segala sesuatu yang menjadi pusat perhatian dalam mempelajari perubahan energi.
            Sistem terbagi menjadi 3 jenis yaitu sistem terbuka, sistem tertutup dan sistem terisolasi. Sistem terbuka yaitu tidak ada transfer massa, hanya transfer energi dari sistem kelingkungan begitu sebaliknya. Sistem tertutup yaitu ada transfer massa dan energi dari –kelingkungan. Sistem terisolasi yaitu tidak ada transfer massa dan energi dari –kelingkungan,
            Sifat fisik NaOH:
-         Merupakan basa kuat
-         Bersifat polar
-         Bersifat hidroskopis
-         Mudah bereaksi dengan udara
-         Warna putih keperakan
-         Massa melebur
-         Berbentuk pellet
-         Sangat baja, keras, rapuh, dan menunjukkan pecahan hablur
-         Bila dibiarkan diudara akan cepat menyerap CO2 dan lembab. Kelarutan mudah larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter. Titik leleh 318oC serta titik didih 1390oC. Hidratnya mengandung 7, 5, 3, 5, 3, 2 dan 1 molekul air.
Sifat fisik HCl, sangat korosif, berupa cairan, berwarna putih, merupakan asam monoprotik. Titik didih pada 10% adalah 103oC dan titik didih pada 10% adalah -18oC. Serta tekanan uap pada 10% adalah 0, 527 pd.
Sifat fisik aquades yaitu berwarna bening, tidak berwarna, berupa cairan, sebagai pelarut kristal NaOH. Rumus molekul H2O, massa molar = 18, 0153 g/mol, densitas dan fase: 0,958 g/cm3, cairan dan 0,92 g/cm2, padatan. Titik lebur 0oC (273, 15 K)(32oC), titik didih = 100oC (373, 15 K) (212oF) tidak berbau.



BAB 5
PENUTUP

 5.1 Kesimpulan
       Dari percobaan tentang hukum Hess dapat disimpulkan bahwa:
-       Besarnya entalpi pada arah 1 adalah sebesar 15, 656528 KJ/mol d entalpi pada arah 2 adalah sebesar 21, 796548 KJ/mol
-       Prinsip dari percobaan hukum Hess ini adalah pengukuran perubahan entalpi dengan menggunakan alat pengukur kalor yaitu kalorimeter
-       Fungsi pengadukan pada reagen adalah untuk menaikkan suhu dari reagen-reagen tersebut, karena dengan adanya pengadukan (gesekan) dapat menaikkan suhu.

5.2  Saran
       Sebaiknya pada percobaan hukum Hess menggunakan bahan yang bebeda pada percobaan selanjutnya misal H2SO4 (asam kuat) dan KOH (basa kuat) agar hasil yang didapat lebih bervariasi, sehingga praktikan dapat membandingkan hasil yang didapat dan pengetahuan praktikan semakin bertambah. 



DAFTAR PUSTAKA

Attkins, P. W. 1999. Kimia Fisik Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Fraington, dkk. 1987. Kimia Fisik. Jakarta: Erlangga

Moore, John. T. 2003. Kimia For Dummies. Indonesia: Pakar Jaya




No comments:

Post a Comment

Post a Comment