Selamat Datang

Semoga blog ini bermanfaat, oleh Ita Trie Wahyuni
"Seorang PEMENANG tidak akan pernah MENYERAH, karena hanya yang MENYERAH tidak akan pernah MENANG"

Wednesday, October 3, 2012

Laporan Kimia Dasar II Elektrolisis

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar beakang
Reaksi kimia dapat ditimbulkan oeh arus listrik, sebaiknya reaksi kimia dapat dipakai untuk menghasilkan arus listrik. Elektolisis merupakan proses dengan mana reaksi redoks yang tidak bisa berlangsung spontan. Untuk ebih memahami apakah sebenarnya eektroisis itu dapat dilihat pada proses pengisian aki. Dalam proses pengisian aki tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila kedalam suatu larutan elektrolit dialiri arus listrik searah maka akan terjadi reaksi kimia, yaitu penguraian atas elektrolit tadi. Peristiwa penguraian (reaksi kimia) oleh arus searah itulah yang disebut eektrolisis. Sedangkan sel dimana terjadinya reaksi tersebut disebut sel elektrolisis. Sel elektrolisis terdiri dari larutan yang dapat menghantarkan listrik disebut elektrolit, dan dua buah elektroda yang berfungsi sebagai katoda dan anoda.
Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katode, yaitu reduksi dan reaksi anode, yaitu oksidasi. Spesi apa saja yang terlibat dalam reaksi katode dan anode bergantung pada potensial elektroda dari spesi tersebut, dengan ketentuan spesi yang mengalami reduksi di katode adalah spesi yang potensial oksidasinya paling besar.
Berdasarkan ketentuan tersebut, kita dapat meramalkan reaksi-reaksi elektrolisis. Namun demikian, peru juga dipahami bahwa potensial electrode juga dipengaruhi konsentrasi dan jenis elektrodenya. Oleh karena itu, percobaan ini dilakukan untuk mengetahui proses dan manfaat dari proses elektrolisis    

1.2  Tujuan percobaan
-          mengetahiu perbedaan elektroisis dan elektrokimia
-          mengetahui beberapa kegunaan elektrolisis
-          mengetahui perbedaan katoda dan anoda dalam reaksi elektrolisis
-          mengetahui factor yang mempengaruhi elektrolisi


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Reaksi tembaga dengan larutan ion perak dalam air berlangsung spontan dan takreversibel. Dengan demikian  DG<0, walaupun pada titik ini magnitudonya tidak diketahui. Karena tidak ada kerja yang dihasilkan, hukum pertama termodinamika menyebutkan bahwa seluruh perubahan energi muncul sebagai perubahan kalor.
Reaksi yang sama ini dapat dilakukan dengan amat berbeda tanpa pernah membawa kedua reaktan kontak langsung satu dengan lainnya jika sebuah sel galvani (sebuah aki) dibuat oleh mereka. Sebuah lembaran tembaga dimasukan sebagian kedalam larutan Cu(NO3)2 dan sebuah lembaran perak dalam sebuah larutan AgNO3, seperti dimasukan sebagian dalam gambar. Kedua larutan dihubungkan oleh sebuah jembatan garam, yang merupakan tabung berbentuk U terbalik yang berisi laruatan garam seperti NaNO3. ujung jembatan ditutup dengan penyumbat berpori yangmenghindarkan kedua larutan bercampur tetapi memungkinkan ion lewat. Kedua lembaran logam dihubungkan ke amperemeter, sebuah alat yang mengukur arah dan magnitude arus listrik yang melaluinya



Jika tembaga dioksida disisi kiri, ion Cu2+ masuk ke larutan. Electron yang dilepaskan pada reaksi melewati rangkaian luar dari kiri ke kanan, seperti digambarkan oleh perubahan jarum ampermeter. Electron masuk ke lembaran perak dan, pada antar muka logam larutan elektron diikat oleh ion Ag+, sebagai atom yang melapisi pada permukaan perak. Proses ini akan menyebabkan kenaikan muatan positif dalam gelas piala sebelah kiri dan menurunkan muatan di gelas piala sebelah kanan, tetapi tidak untuk jembatan garam. Jembatan memungkinkan aliran netto ion positif ke gelas piala sebelah kanan dan ion negative ke gelas piala sebelah kiri, yang menjaga netralitas muatan disetiap sisi.
                 Reaksi oksidasi – reduksi ini terdiri dari dua setengah reaksi yang terpisah. Setengah reaksi oksidasi di gelas piala sebelah kiri adalah :
Cu (s)  ® Cu2+ (aq) + 2e-
Dan setengah reaksi reduksi di gelas piala sebelah kanan adalah
Ag+ (aq) + 2e- ® Ag (s)
(David W. Oxtoby, 2001).
            Mengikuti apa yang dikatakan Michael Faraday, para ahli kimia menyebut sisi berlangsungnya oksidasi dalam sel elektrokimia sebagai anoda dan sisi berlangsungnya reduksi sebagai katoda. Dalam sel Galvani seperti yang baru saja di diskusikan, tembaga adalah anoda (karena dioksidasi) dan perak adalah katoda (karena Ag+ direduksi). Electron-elektron mengalir pada rangkaian luar  dari anoda ke katoda. Dalam larutan ion positif dan negative keduanya bebas untuk bergerak. Didalam sebuah sel elektrokimia, ion-ion negative (anion) bergerak menuju anoda, dan ion positif (kation) bergerak ke katoda.
            Reaksi kimia netto dalam sel Galvani dalam sederhana ini (Cu|Cu2+||Ag+|Ag) sama dengan yang berlangsung jika sebuah lembaran tembaga ditempatkan dalam larutan perak nitrat dalam air, tetapi ada perbedaan penting dalam prosesnya. Karena komponen reaksi dipisahkan kedalam dua tempat, sementara kontinuitas listrik dijaga, perpindahan langsung electron dari atom tembaga ke ion perak dihindari, dan mereka dipaksa berjalan melalui rangkaian luar (kawat) sebelum akhirnya melakukan pengaruh netto yang sama. Arus electron yang melalui kawat dapat diguanakan untuk berbagai tujuan. Sebagai contoh, jika sebuah lampu bohlam ditempatkan dalam rangkaian listrik, arus yang melewatinya akan mengakibatkan bohlam menyala (David W. Oxtoby, 2001).
Sel galvani
            Seperti telah dinyatakan bahwa sel galvani adalah alat yang dapat mengubah energy kimia menjadi listrik. Untuk sampai kepada sel galvani, perhatikanlah beberapa percobaan berikut ini. Jika sebatang logam dicelupkan kedalam larutan ion logam tersebut, terjadi kesetimbangan antara logam dengan larutan ion lainnya. Contoh logam tembaga (Cu) dicelupkan ke dalam larutan CuSO4, da logam seng (Zn) dicelupkan kedalam larutan ZnSO4. Pada kedua system ini tidak terlihat adanya perubahan tetapi sebenarnya ada kesetimbangan :
Cu2+ (aq) + 2e- ® Cu (s) 
Zn2+ (aq) + 2e ® Zn (g)
Artinya, searah terima electron terjadi secara langsung dan bolak balik. Karena system dalam keadaan setimbang maka mata tidak akan mampu melihat, baik pada batang logam maupun dalam larutan.
Percobaan 2
            Kemudian percobaan 1 dibalik, batang Zn dicelupkan dalam larutan CuSO4, dan batang Cu dicelupkan kedalam larutan ZnSO4. Pada batang Zn terlihat perubahan (reaksi), sedangkan pada batang Cu tidak. Hal itu disebabkan oleh ion Cu2+ dapat tereduksi dengan merampas electron logam Zn, sehinggan Zn teroksidasi. Reaksi totalnya adalah :
Zn (s) + Cu2+ (aq) ® Zn2+ (aq) + Cu (s)
Logam Cu dalam larutan Zn2+ tidak bereaksi karena Zn2+ tidak dapat merampas logam Cu,
Cu (s) + Zn2+ (aq) ®
(Syukri.1999).
            Sebuah seliih potensial listrik, Dg antara dua titik dalam rangkaian yang menyebabkan electron mengalir, sama seperti selisih potensial gravitas antara dua titik di permukaan bumi yang menyebabakan air mengalir ke bawah. Selisih potensial listrik ini, atau tegangan sel, dapat diukur dengan sebuah alat yang disebut volt meter yang diletakkan di rangkaian luar. Tegangan yang diukur dalam sel galvani tergantung pada magnitude arus yang melewati sel, dan tegangan jatuh jika arus terlalu besar. Tegangan sel interistik (nilainya pada arus nol) dapat diukur dengan menempatkan sumber tegangan variable dalam rangkaian luar sedemikian rupa sehingga potensialnya DGekst melawan selisih potensial listrik  sel elektrokimia. Selisih potensial netto adalah
DGnet = DG -D Gekst
            DG dapat diukur dengan mengatur D Gekst  sampai  Gnet   menjadi nol, pada titik arus melalui rangkaian juga mengalami turun menjadi nol. Jika D Gekst  dijaga sedikit dibawah D G, selisih potensial netto menjadi kecil dan fungsi sel mendekati reversible, engan hanya arus kecil dan kecepatan reaksi yang lambat di elektroda (David W. Oxtoby, 2001).
Potensial elektroda
            Kita mengetahui bahwa sel Galvani terdri dari dua elektroda yang disebut juga setengah-sel, yaitu anoda dan katoda. Suatu elektroda mempunyai potensial tertentu yang disebut potensial elektroda. Suatu elektroda mengandung partikel (ion atau molekul) yang dapat menarik electron, atau cenderung tereduksi. Kekuatan tarikan itu disebut potensial reduksi, yamg nilainya tidak sama antara suatu elektroda dengan yang lainnya.
Menghitung potensial sel
            Potensial sel dalam keadaan standar dapat dihitung dari potensial elektroda standar. Setiap elektroda cenderung menarik electron kearahnya, dan yang menang adalah potensial reduksinya lebih besar. Elektroda kuat akan menerma electron dan menjadi katoda, sedang yang lain terpaksa memberikan electron menjadi anoda. Potensial sel merupakan selisih dari daya tarik yang kuat dengan yang lemah, yaitu selisih potensial rediksi katoda dan anoda.
Esel = Ekat – Eanod
Cara menentukan katoda dan anoda serta sel adalah sebagai berikut :
1.      tuliskan reaksi reduksi kedua elektroda pemberian nlai potensialnya
2.      sebagai katoda adalah yang besar potensiareduksinya dan tuliskan raksi oksidasi (dengan membalik reaksi reduksi) serta oks-nya
3.      kalikan reaksi degan bilangan bulat agar jumlah electron yang diterima sama dengan yang dilepaskan, sedangkan nilai potensial elektroda tetap (tidak dapat dikalikan)
4.      tuliskan reaksi redoks dari sel dengan rumus
E°sel = E°red - E°oks

(Syukri.1999).
            Penggunaan penting dari elektrolisi dalah dalam pemurniaan logam. Proses pemurnian logam biasanya menghasilkan logam tembaga yang kurang murni untuk penggunaan secara lazim. Misalnya, adanya arsenic dapat menurunkan konduktivitas listrik dari tembaga, sehingga hasilnya kurang cocok untuk dibuat kawat dan konduktor listrik yang lain. Sebongkah besar tembaga yang tidak murni sebagai anode dan sebuah lempeng dari tembaga murni sebagai katode. Selam elektrolisis, tembaga dipindah secara terus-menerus melalui larutan (sebagai CO2+) dari anode ke katode. Emas dan pera biasanya ditemukan sebagai “pengoksidator” dalam tembaga.
Logam-logam ini kurang aktf dibandingtembaga, yaitu agak sukar teroksidasi. Logam-logam tersebut tidak masuk kedalam reaksi anoda, tapi mengendap pada dasar tangki elektrolisis dalam suat lumpur yang dinamakan lumpur anode. Nilai ekonomis dari lumpur anode kerap cukup untuk menutup biaya pemurnian tembaga secara elektrolisis.
Diantara benda-benda secara umum yang dipakai produksi hamper seluruhnya dengan proses elektrolisi adalah alkali, magnesium, alumunium, klor, flour, hydrogen peroksida dan natrium hidroksida. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa industry modern pada umumnya tidak dapat berfungsi tanpa tersedianya reaksi-reaksi elektrolisis (Ralph H Petrucci.1985).
Logam tembaga semakin hari makin banyak dibutuhakn untuk berbagai keperluan. Biasanya logam ini dikotori sekitar 1% oleh logm lain seperti besi, zink, perak, emas, dan platina (Syukri.1999).




BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan bahan
            3.1.1 Alat
-          Tabung U
-          Adaptor
-          Elektroda Karbon
-          Eektroda Tembaga
-          Pipet Tetes
-          Tabung Reaksi
-          Tiang Statif
3.1.2 Bahan
-          KI 1%
-          Indikator Phenoftalein
-          FeCl3
-          CuSO4
-          Amilum
-          Aquadest
-          Batang Karbon
-          Batang Kawat (tembaga)

3.2 Prosedur Percobaan
            3.2.1 Elektrolisis larutan CuSO4 dengan katoda karbon dan anoda tembaga
-          Dimasukkan larutan CuSO4 kedalam tabung U
-          Dimasukkan kedua elektroda dalam tabung dengan sumber tegangan 24 V selama beberapa menit
-          Diputuskan arus listrik setelah beberapa menit
-          Diamati
3.2.2 Elektrolisis larutan CuSO4 dalam K (c) dan A (c)
-          Dimasukkan larutan CuSO4 kedalam tabung U
-          Dimasukkan kedua elektroda dalam tabung dengan sumber tegangan 24 V selama beberapa menit
-          Diputuskan arus listrik setelah beberapa menit
-          Diamati
3.2.3 Elektrolisis larutan KI 1% dengan K (c) dan A (c)
-          Dimasukkan larutan KI 1% kedalam tabung U
-          Dimasukkan kedua elektroda dalam tabung dengan sumber tegangan 24 V selama beberapa menit
-          Diputuskan arus listrik setelah beberapa menit
-          Diamati
-          Diambil 1 pipet dari katode
-          Ditambahkan 2 tetes pp dan diamati
-          Diambil 1 pipet dari katode
-          Ditambahkan 5 tetes FeCl3
-          Dan diamati
-          Diambi 1 pipet larutan dari anode
-          Ditambahkan 1 tetes amilum dan diamati




BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
No
Perlakuan
Pengamatan
1
Elektrolisis larutan CuSO4 dengan K (c) dan A (tembaga)
-          Dimasukkan larutan CuSO4 kedalam tabung U
-          Dimasukkan kedua elektroda dalam tabung dengan sumber tegangan 24 V selama beberapa menit
-          Diputuskan arus listrik setelah beberapa menit
-          Diamati
-          (A) : Cu ® Cu2+ + 2e-
      (K) : Cu2+ + 2e- ® Cu
-          Setelah dialiri listrik (24V) membentuk endapan Cu yang mengendap di katoda
-          Anoda Cu secara perlahan terkikis (teroksidasi) menjadi ion Cu2+ yang larut
2
Eektrolisis larutan CuSO4­ dengan K (c) dan A (c)
-          Perlakuan sama seperti diatas
-          (A) : 2 H2O ® 4H+ + 4e+O2
(K) : Cu2+ + 2e ® Cu
-          Pada anoda, H2O membentuk gelembung O2, setelah dialiri listrik (24 V)
-          Pada katoda, terbentuk endapan Cu setelah dialiri listrik (24 V)
3
Elektroisis KI 1%  dengan K (c) dan A (c)
-          perlakuan sama
-          Diambil 1 pipet dari katode
-          Ditambahkan 2 tetes pp dan diamati
-          Diambil 1 pipet dari katode
-          Ditambahkan 5 tetes FeCl3
-          Dan diamati
-          Diambi 1 pipet larutan dari anode
-          Ditambahkan 1 tetes amilum dan diamati
-          (A) : 2I-  ® I2 + 2e-
-          (K) : 2H2O + 2e  ® 2OH- + H2
-          I2 mengalami oksidasi
-          H2O tereduksi menjadi H2
-          Setelah dialiri listrik 24V, pada anoda, laruatan yang semula menjadi bening. Sedangkan pada katoda, H2O tereduksi menjadi H2 sehingga mengahsilkan geembung H2.
-          Satu pipet larutan dari katoda ditambah 2 tetes indicator pp, warna yang semula bening menjadi biru lembayung
-          Satu pipet larutan dari katoda ditambahkan FeCl3 yang semula berwarna bening berubah menjadi kuning + endapan
-          Satu pipet larutan dari anoda ditambahkan amilum yang semula kuning, berubah menjadi hitam.

4.3  Pembahasan
Sebuah sel diman potensial luar yang berlawanan menyebabakan reaksi berlangsung dalam arah berlawanan secara spontan disebut sel elektrolisis. Sel seperti ini menggunakan energy listrik yang dihasilkan oleh rangaian luar untuk melakukan reaksi kimia yang sebetulnya tidak dapat berlangsung. Dalam sel elektrlosis, muatan positif ada di anda dan muatan negative ada di katodanya.
Sedangkan, sebuah sel elektrokimia yang beroperasi secara spontan disebut sel Galvani (sel volta). Sel seperti nin mengubah energy kimia menjadi energy listrik, yang dapat digunakan untuk melakukan kerja. Dalam sel Galvani, muatan positif ada di katoda dan muatan negative ada di anoda.
            Berdasarkan keadaan ion dalam wadahnya, electrolysis menjadi dua, yaitu lelehan dan larutan. Elektrolsis lelehan senyawa ion dapat dielektrolisis dalam keadaan cair atau menjadi lelehan. Suatu ion yang padat tidak dapat dielektrolisis, karena tidak mengandung ion bebas. Akan tetapi, jika dipanaskan sampai meleleh akan terurai jadi ion-ion positif (kation) akan tertark ke katoda dan ion negatife (anion) akan tertarik ke anoda. Untuk elektrolisis larutan elektrolit dalam air akan terurai jadi ion positif dan ion negative. Reaksi elektrolisis larutan tidak sama dengan lelehan, karena larutan terdapat pelarut (air). Air kadang bereaksi, baik pada katoda maun pada anoda. Reaksi pada katoda maupun anoda pada larutan memiliki beberapa ketentuan yaitu :
A.    Reaksi pada katode
1.      Katoda yang tergolongan dalam golongan utama, Al dan Mn yang direduksi adalah H2O
2H2O + 2e  ® 2OH- + H2
2.      Ion-ion logam selain diatas dapat direduksi
Mn+ + ne- ®  M
3.      Ion H+ dari asam direduksi menjadi gas hydrogen
2H+ + 2e- ® H2
4.      Jika yang dielektrolisi adalah larutan elektrolit, maka ion-ion pada no 1 dapat mengalami reaksi pada no 2.
B.     Reaksi pada anode
1.      Ion-ion yang mengandung atom dengan biloks maksimal seperti SO42- atau NO3-, yang teroksidasi adalah pelarut air terbentuk gas oksigen
2 H2O ® 4H+ + 4e+O2
2.      Ion-ion halide (X-), F-,Cl-, Br- dan I- dioksidasi menjadi halogen
2X-  ® X2 + 2e
3.      Ion-ion dari basa dioksidasi menjadi gas oksigen
4OH- ® 2H2O + 4e + O2
4.      Pda proses penyepuhan dan pemurnian logam, maka yang dipakai sebagai anode adalah suatu logam, sehingga anode mengalami oksidasi menjadi ion yang larut
M ®Mn+ + ne-
            Dalam elektrolisis, dikenal dengan elektroda inert dan non inert. Elektroda inert adalah elektroda yang sukar bereaksi. Contohnya Grafit,Pt dan Au. Sedangkan elektroda non inert adalah elektroda yang mudah beroksidasi. Contohnya I- dan Br-.
Pada percobaan pertama elektrolisis larutan CuSO4 dengan katoda (c) dan anoda (tembaga). Pada anoda terjadi reaksi Cu ® Cu2+ + 2e-. pada katode terjadi reaksi Cu2+ + 2e ® Cu. Setelah dialiri arus listrik (24V) pada katode terbentuk endapan Cu. Sedangkan pada anode, Cu secara perlahan-lahan terkikis menjadi ion Cu2+ yang larut
Berarti kedua elektroda yang digunakan merupakan elektroda inert pada larutan CuSO4, ion Cu2+ mengalami reduksi dikatode menjadi Cu, dan dianoda terbentuk gelembung gas O, karena dianoda terjadi reaksi oksidasi SO42- mengandung oksigen, sehingga yang teroksidasi adalah H2O dan menghasilkan gas O2 pada anoda. Arus listrik yang digunakan untuk mengubah energy listrik suatu voltmeter menjadi reaksi redoks.
Pada percobaaan kedua, elektrolisis larutan CuSo4 dengan katode (karbon) dan anode (karbon), pada anoda terjadi reaksi 2 H2O ® 4H+ + 4e+O2. Pada katode terjadi reaksi Cu2+ + 2e ® Cu. Setelah dialiri arus listrik pada katode terbentuk endapan Cu, sedangkan pada anode H2O menbentuk gelembung O2.
Tembaga awalnya berwarna kuning emas, tetapi tembaga mengalami pengikisan sehingga berubah menjadi warna perak. Ion-ion mengalamireduksi adalah Cu2+ menjadi Cu, karena Cu memiliki potensial reduksi lebih rendah dari pada H2O, dan Cu termauk golongan transisi sehingga yang direduksi adalah kationnya itu sendiri. Dikatoda terdapat logam Cu yang lebih banyak, karena logam Cu tersebut berasal dari 2 sumber, yaitu berasal dari elektrolit CuSO4 dan dari Cu. Yang terbentuk pada anoda yang dioksidasi adalah Cu, karena Cu merupakan elektrolit non inert yang hanya terjadi pada anoda, sehinnga anion yang dioksidasi adalah elektrodanya,
Pada percobaan ketiga, elektrolisis larutan KI 1% dengan K (c) dan A (c) . pada anode terjad reaksi 2I-  ® I2 + 2e-. pada katoda terjadi reaksi 2H2O + 2e  ® 2OH- + H2. Setelah dialiri arus listrik , pada anode, larutan yang semula bening menjadi kuning (I2 mengalami oksidasi). Sedangkan pada katode H2O tereduksi dan menghasilkan basa OH-, selain itu elektroda yang digunakan tidak inert, sehingga elektroda itu dapat diabaikan.
Satu pipet larutan dari katode ditambahkan 2 tetes indicator pp, warna yang semula bening menjadi biru lembayung. Penambahan indicator pp adalah untuk mengetahui adanya basa dalam katoda. Satu pipet larutan dari katoda ditambahkan FeCl3, yang semula berwarna bening berubah menjadi kunig + endapan. Fungsi pnambahaan FeCl3 sama dengan indicator pp, yaitu untuk mengetahui senyawa basa yang ada di katode. FeCl3 yang direaksikan akan membentuk endapan Fe(OH)3. Satu pipet dari larutan dari anode ditambahkan amilum, yang semula berwarna kuning berubah menjadi warna hitam. Fungsi penambahan amilum adalah untuk mengetahui adanya ion I- dalam anoda.
Elektrolisis digunakan dalam bidang industri dapat disebutkan 3 bidang industry yang menggunakan elektrolisis, yaitu produksi zat, pemurnian logam, dan penyepuhan.
a.       Produksi zat
Banyak zat kimia dibuat melalui elektrolisis, misalnya logam-logam alkali, magnesium, alumunium, fluorin, klorin, natrium hidroksida, natrium hipoklorofit, dan hydrogen peroksida.  Klorin dan natrium hidroksida dibuat dari elektrolisis larutan natrium klorida. Proses ini disebut proses klor-alkali dan merupakan proses industry yang sangat penting.
b.      Pemurnian logam
Contoh terpenting dalam bidang ini adalah pemurnian tembaga. Untuk membuat kabel listrik, digunakan tembaga murni, sebab adanya pengotor dapat mengurangi konduktivitas tembaga. Akibatnya, akan timbul banyak panas dan akan membahayakan penggunaannya. Perak, emas, platina, besi, dan zink biasanya merupakan pengotor pada tembaga. Perak, platina, dan emas mempunyai potensial lebih positif daripada tembaga. Dengan mengatur tegangan selama elektrolisis, ketiga logam tersebut tidak ikut larut. Dan ketiga logam tersebut akan terdapat pada lumpur anode. 
c.       Penyepuhan
Penyepuhan (electroplating) dimaksudkan untuk melindungi logam terhadap korosi atau untuk memperbaeki penampilan. Pada penyepuhan, logam yang akan disepuh dijadikan katode sedangkan penyepuhnya sebagai anode. Kedua electrode itu dicelupkan  ke dalam larutan garam dari logam penyepuh.
            Dalam percobaan, ada beberapa indicator-indiktor yang digunakan dan tujuan-tujuan dari indictor tersebut. Reksi antara KI dan indicator pp, penambahan indicator pp pada katode berungsi untuk mengetahui adanya basa OH- dalam katode karena K direduksi oleh air. Terjadi perubahan warna dari larutan bening menjadi tidak berwarna. Hal ini juga disebabkan nilai potensial reduksi air lebih rendah dibandingkan golongan SA(k+). Penambahan FeCl3 sama seperti indicator pp yang berfungsi untuk mengetahui adanya senyawa basa yang ada di katoda. FeCl3 yang direaksikan akan membentuk endapan Fe(OH)3.
            Untuk penambahan amilum pada larutan anoda adalah untuk engetahui adanya kandungan ion I- dengan adanya perubahan warna, yang semula berwarna bening menjadi hitam, karena kegunaan amilum dalam suatu indicator bereaksi dengan iodium, sehingga untuk membuktikan adanya kandungan iodium untuk indikator  amilum.
Reaksi Elektrode (reduksi)
Potensial Elektroda,E (volt)
Li+ (aq) + e « Li (s)
K+ (aq) + e « K (s)
Ba2+ (aq) + 2e «Ba (s)
Ca2+ (aq) + 2e « Ca (s)
Na+ (aq) + e «Na (s)
Mg2+ (aq) + 2e «Mg (s)
Al3+ (aq) + 3e «Al (s)
Mn2+ (aq) + 2e «Mn (s)
2H2O (l)+ 2e « 2OH- (aq) + H2 (g)
Zn2+ (aq) + 2e« Zn (s)
Cr3+ (aq) + 3e« Cr (s)
Fe2+ (aq) + 2e« Fe (s)
Cd2+ (aq) + 2e« Cd (s)
Ni2+ (aq) + 2e« Ni (s)
Co2+ (aq) + 2e« Co (s)
Sn2+ (aq) + 2e« Sn (s)
Pb2+ (aq) + 2e« Pb (s)
2H+(aq) + 2e « H2 (g)
Cu2+ (aq) + 2e« Cu (s)
2H2O (l) + O2 (g) + 4e  « 4OH- (aq)
I2 (s) + 2e « 2I- (aq)
Fe3+ (aq) + e+ « Fe2+ (aq)
Hg22+ ( aq) + 2e « Hg (l)
Ag+ (aq) + e « Ag (s)
Hg2+ ( aq) + 2e « Hg (l)
No3_ (aq) + 4H+ (aq) + 3e « NO (aq) + 2H2O (l)
-3,04
-2,92
- 2,90
- 2,87
- 2,71
- 2,37
- 1,66
- 1,18
- 0,83
- 0,76

-          0,74
-          0.44
-          0,40
-          0,28
-          0,28
-          0,14
-          0,13

0,00
+ 0,34
+ 0,40
+ 0,54
+ 0,77
+ 0,79
+ 0,80
+ 0,85
+ 0,96




BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
-          Dalam elektrokimia (sel volta), reaksi redoks spontan digunakan sebagai sumber listrik, katoda (+) dan anoda (-). Sedangkan dalam elektrolisis, listrik digunakan untuk melangsungkan reaksi redoks tak spontan, katoda (-) dan anoda (+).
-          Beberapa kegunaan elektrolisis :
1.      Dapat memperoleh unsur-unsur loga, halogen, gas hydrogen dan gas oksigen
2.      Dapat menghitung konsentrasi ion logam dalam suatu larutan
3.      Digunakan dalam pemurnian suatu logam
4.      Salah satu proses elektrolisis yang popular adalah penyepuhan, yaitu melapisi permukaan suatu logam dengan logam yang lainnya
-          Dalam reaksi elektrolisis, pada anoda terjadi reaksi oksidasi yakni reaksi pelepasan electron, sedangkan pada katoda terjadi reaksi reduksi yakni reaksi penangkapan elektron.
-          Faktor-faktor yang mempengaruhi elektrolisis antara lain konsentrasi (keaktifan) elektrolit yang berbeda, komposisi kimia electrode yang berbeda, electrode inert tak aktif, dan elektroda tidak inert
5.2 Saran
-          Dalam percobaan elektrolisis, eektroda karbon dapat diganti dengan elektroda Pt dan Au yang sama-sama tergolong sebagai elektroda inert.



DAFTAR PUSTAKA


Oxtoby, David.W.2001.Kimia Modern.Erlangga : Jakarta
Petrucci, Ralp. H.1985.Kimia untuk Universitas. Erlangga : Jakarta
S.Syukri.1999.Kimia Dasar 3.ITB : Bandung






 
           



Laporan Kimia Dasar II Adisi Substitusi


BAB  1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Reaksi subtitusi adalah pergantian suatu gugus atau atom dengan gugus atau atom lain. Pada reaksi subtitusi atom atau gugus atom yang terdapat dalam suatu molekul digantikan oleh atom atau gugus atom lain umumnya pada senyawa yang jenuh, tetapi pada kondisi tertentu dapat juga terjadi pada senyawa tak jenuh.
Reaksi adisi adalah penambahan masing-masing satu gugus kepada dua atom karbon yang mempunyai ikatan rangkap sehingga menghilangkan ikatan atau rangkapnya. Pada reaksi adiris, molekul senyawa yang mempunyai ikatan rangkap menyerap atom atau gugus atom sehingga ikatan rangkap berubah menjadi ikatan tunggal seperti reaksi antara heksana dengan iodium (I2).
Berdasarkan prinsip di atas maka reksi-reaksi hidrokarbon di atas banyak di gunakan untok kepentingan industri antara lain untuk memproduksi bahan kimia organik, seperti industri bahan pengawetan makanan agar tidak mudah berbau tengik pada minyak cair. Contoh lain yaitu asitilena. Asitilena merupakan zat berupa gas, tidak berwarna, tidak berbau. Campuran gas asitilena dan oksigen digunakan untuk memperoleh suhu tinggi yang diperlukan untuk memotong dan mengelas logam.
 Oleh karena itu penting untuk mempelajari reaksi adisi substitusi sebab pada umumnya, reaksi ini penting dalam produksi bahan kimia organik yang berharga, secara industri dan salah satu penggunaan yang penting dalam mengubah minyak nabati yang cair menjadi lemak padat.

1.2.Tujuan Percobaan
-    Mengetahui hasil reaksi antara Benzena dengan I2 dan Benzena dengan KMnO4
-    Mengetahui alasan KMnO4 tidak bisa bereaksi dengan Benzena
-    Mengetahui alasan minyak goreng bisa berbau tengik

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Alkana yang paling sederhana ialah metana. Semua alkana mempunyai rumus umum CnH2n + 2 dengan n ialah banyaknya atom karbon. Alkana dengan rantai karbon yang tidak bercabang disebut alkana normal. Setiap anggota deret ini berbeda dengan yang berada di atasnya dan yang berada di bawahnya karena adanya gugus – CH2 – (disebut gugus metuana). Sederet senyawa yang anggotanya dibangun dengan mengulangi cara yang beraturan seperti ini dinamakan deret homolog (homologous series). Anggota-anggota deret seperti ini memiliki sifat kimia dan sifat fisika yang serupa, yang berubah berangsur-angsur jika ditambahkan atom karbon pada rantai.
Pada masa awal ilmu kimia organik, setiap senyawa baru biasanya dinamai berdasarkan sumber atau penggunaannya. Misalnya limonena (dari jeruk limau),    Î± – pinena (dari pohon pinus).
Aturan IUPAC untuk penamaan alkana.
-          Nama umum untuk hidrokarbon jenuh asiklik ialah alkana. Akhiran –ana digunakan untuk semua hidrokarbon jenuh.
-          Alkana tanpa cabang dinamai sesuai dengan banyaknya atom karbon.
-          Untuk alkana dengan cabang, nama dasarnya ialah rantai lurus terpanjang yang terbentuk dari atom-atom karbon.
-          Gugus yang melekat pada rantai utama dinamakan substituen. Substituen jenuh yang hanya mengandung karbon dan hidrogen dinamakan gugus alkil. Gugus alkil dinamai dengan mengambil nama alkana yang mempunyai jumlah atom karbon yang sama dan mengubah akhiran –ana menjadi –il.
-          Rantai utama dinomori sehingga substituen pertama yang dijumpai di sepanjang rantai memperoleh nomor terendah. Setiap substituen kemudian diberi nama dan nomor atom karbon dilekatinya. Bila dua atau lebih gugus identik melekat pada rantai utama, digunakan awalan seperti oli, tri dan tetra. Setiap substituen harus dinamai dan dinomori meskipun dua substituen yang identik melekat pada karbon yang sama pada rantai utama.
-          Jika terdapat dua atau lebih jenis substituen, urutkan berdasarkan abjad, kecuali awalan seperti di dan tri yang tidak dianggap sewaktru pengurutan abjad.
-          Tanda baca merupakan hal penting bila menuliskan nama IUPAC. Nama IUPAC untuk hidrokarbaon ditulis sebagai satu kata. Nomor dipisahkan satu dengan lainnya dengan menggunakan tanda baca koma dan dipisahkan dengan huruf oleh tanda hubung. Tidak ada spasi di antara substituen yang dinamai terakhiran dan nama alkana induk yang mengikutinya (Harold Hart, 2003).
Alkana tidak larut dalam air. Ini karena molekul air bersifat polar, sedangkan alkana bersifat non polar (semua ikatan C – C dan C – H nyaris kovalen murni). Ikatan O – H dalam molekul air terpolarisasi dengan kuat berkat tingginya elektronegativitas oksigen.
Senyawa yang mengandung hanya karbon, hidrogen dan suatu atom halogen, dapat dibagi dalam tiga kategori: alkil halida, aru halidah (dalam mana sebuah halogen terikat pada sebuah karbon dari suatu cincin aromatik) dan hauda vinilik (dalam nama sebuah halogen terikat pada sebuah karbon berikatan rangkap).
Contoh            : Alkil Halida (Rx)      :           CH3I                (Iodometana)
              Aril Hauda (Arx)      :          
(BromoBenzena)


              Halida vinilik            :           CH = CHCl    



Dalam reaksi kimia, struktur bagian alku (dari) suatu alku halida berperanan. Oleh karena itu perlu diperbedakan empat tipe alku halida: metil, primer, skunder dan tersier.
Suatu metil halida ialah suatu struktur dalam nama satu hidrogen dari metana telah digantikan oleh sebuah halogen.
Metil halida CH3F (Fluorometana) CH3Cl (Klomometana). Karbon ujung sebuah alku halide ialah atom karbon yang terikat pada halogen. Suatu akil halide primer (1o)(RCH2x) mempunyai satu gugus alkil terikat pada karbon ujung. Contoh CH3 – CH2BR (erometana) (alku halide ditandai garis bawah).
Suatu alku halide sekunder (2o)(R2CHx) mempunyai dua gugus alkil yang terikat pada karbon ujung dan suatu alku tersier (3o)(R3Cx) mempunyai tiga gugus alkil yang terikat pada karbon ujung.
Contoh alkil halide sekunder:
           
(2 – bromobutana)
Alkil Halida Tersier


(2 – kloro – 2 – metal propana)          







Atom karbon ujung suatu alkil halide mempunyai muatan positif parsial. Karbon ini rentan terhadap serangan oleh anion dan spesi lain yang mempunyai sepasang electron menyendiri dalam kulit luarnya. Dihasilkan reaksi substitusi = suatu reaksi dalam mana satu atom ion atau gugus disubstitusikan untuk (menggantikan) atom, ion atau gugus lain.
Contoh:           HO + CH3CH2 – Br             ------>               CH3CH2 – OH + Br
Dalam reaksi substitusi akil halide, halide itu disebut gugus pergi suatu istilah yang berarti gugus apa saja yang dapat digeser dari ikatannya dengan suatu atom karbon, ion halide merupakan gugus pergi yang baik karena ion-ion ini merupakan basa yang sangat lemah. Basa kuat, bukat gugus pergi yang baik.
Bila suatu alkil halide diolah dengan suatu basa kuat, dapat terjadi suatu reaksi eliminasi. Dalam reaksi ini sebuah molekul kehilangan atom-atom atau ion-ion dari dalam strukturnya. Produk organic suatu reaksi eliminasi suatu alkil halide adalah suatu alkena. Dalam tipe reaksi eliminasi ini, unsur H dan x keluar dari dalam alkil halide: oleh karena itu reaksi ini juga disebut dehidrohalogenasi (awalan de – berarti minus atau hilangnya) (Ralp. J. Fessenden., 1982).

ALKENA
Alkena mengandung sedikitnya satu ikatan rangkap dua karbon-karbon. Alkena mempunyai rumus umum CnH2n dengan n = 2,3,… alkena yang paling sederhana C2H4, etilena, dimana kedua atom karbonnya terngridasasi Sp2 dan ikatan rangkap duanya terdiri dari satu ikatan sigma dan satu ikatan Pi, (Raymond Chang, 2005).
Dalam penamaan alkena terdapat beberapa aturan yaitu:
o   Akhiran –ena digunakan untuk menunjukkan ikatan rangkap karbon-karbon. Bila terdapat lebih dari satu ikatan rangkap, gunkan akhiran –diena, -triena dan sturusnya.
o   Pilihlah rantai terpanjang yang mengandung baik karbon dengan ikatan rangkap maupun ikatan rangkap tiga.
o   Nomori rantai dari ujung terdekat dengan ikatan majuemuk, sehingga atom karbon pada ikatan itu memperoleh nomor terkecil.
o   Nyatakan posisi ikatan mejemuk menggunakan atom karbon dengan nomor terendah dari ikatan tersebut.
o   Jika terdapat lebih dari satu ikatan majemuk, nomori dari ujung terdekat dengan ikatan majemuk.






Tiga reaksi lazim alkena adalah reaksi dengan hydrogen, dengan klor dan dengan suatu hydrogen halide:
Tiap reaksi adalah reaksi adiri. Dalam tiap kasus suatu pereaksi diadikan kepada alkena, tanpa terlepasnya atom-taom lain. Segera diketahui bahwa karakteristik utama senyawa tak jenuh ialah adisi pereaksi kepada ikatan-ikatan Pi.
Dalam suatu reaksi adisi suatu alkena, ikatan Pi terputus dan pasangan elektronnya digunakan untuk membentuk dua ikatan sigma baru. Dalam tiap kasus, atom karbon Sp2 direhibridasi menjadi Sp3- senyawa yang mengandung ikatan Pi biasanya berenergi lebih tinggi dari pada senyawa yang sepa dan yang mengandung hanya ikatan sigma. Oleh karena itu suatu reaksi adisi biasanya eksoterm.
Hidrogen halide mengadisi ikatan Pi alkena dan menghasilkan alkil halide. Jika sebuah alkena tak-simetris (yakni gugus-gugus yang terikat pada kedua karbon Sp2 tidak sama), akan terdapat kemungkinan diperoleh dua produk yang berlainan dari adisi Hx:





Dalam suatu adisi elektrofelik yang dapat menghasilkan dua produk, biasanya satu produk lebih melimpah dari pada produk yang lain. Dalam 1869, seorang ahli kima Rusia, Dalam adisi Hx kepada alkena tak simetris, H+ dari Hx menuju ke karbon berikatan-rangkap yang telah lebih banyak memiliki hydrogen.
Adisi HBr kepada alkena kadang-kadang berjalan mematuhi aturan Markovnikov, tetapi kadang-kadang tidak. (efek ini tak dijumpai dengan HCl atau HI)




Benzena merupakan senyawa aromatic tersederhana dan senyawa yang telah seringkali dijumpai. Banyak senyawa benzene biasa mempunyai nama diri, yakni nama yang tak perlu bersistem.
Benzena terdisubstitusi diberi nama dengan awalan orto, meta dan para dan tidak dengan nomor-nomor posisi satu sama lain dalam suatu cincin benzene: meta menandai hubungan 1,2; dan para berarti hubungan 1,4. Penggunaan orto, meta, dan para sebagai ganti nomor-nomor posisi hanya dipertahankan khusus untuk benzene terdisubstitusi (Keenan, 1986).


STRUKTUR DAN NAMA-NAMA
BEBERAPA SENYAWA BENZENA UMUM

STRUKTUR
NAMA
STRUKTUR
NAMA








Toluena



P – xliena



Stirena




Anilina



Asetaniliada




Fenol








Asam Benzoat



Benzil Alkohol



P – Toluenasulfanil



Asetofenon




Benzofenon






BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1.                     Alat dan Bahan
3.1.1.          Alat – Alat
-    Tabung Reaksi
-    Pipet Tetes
-    Gelas ukur

3.1.2.          Bahan – Bahan
-    Benzena
-    Minyak Goreng
-    KMnO4
-    I2
-    Heksena
-    Heptana
3.2.                     Prosedur Percobaan
3.2.1.      Benzena + KMnO4
-    Diambil pipet C6H6
-    Ditambahkan 2 tetes KMnO4
-    Kemudian diamati

3.2.2.      Benzena + I2
-    Diambil 1 pipet C6H6
-    Ditambahkan 2 tetes I2
-    Kemudian diamati

3.2.3.      Minyak Goreng + KMnO4
-    Diambil 1 pipet minyak goreng
-    Ditambahkan 2 tetes KMnO4
-    Kemudian diamati

3.2.4.      Minyak Goreng + I2
-    Diambil 1 pipet minyak goreng
-    Ditambahkan 2 tetes I2
-    Kemudian diamati

3.2.5.      Heksena + I2
-    Diambil 1 pipet Heksena
-    Ditambahkan 2 tetes I2
-    Kemudian diamati

3.2.6.      Heptana + I2
-    Diambil 1 pipet heptana
-    Ditambahkan 2 tetes I2
-    Kemudian diamati




BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan
Perlakuan
Pengataman
C6H6 + KMnO4

C6H6 + I2




Minyak Goreng + KMnO4


Minyak Goreng + I2

1 pipet heksena + 3 tetes I2 (reaksi adisi)



1 pipet heptana + 3 tetes I2


Terdapat dua fase, fase di atas Benzena dan fase bawah KMnO4.
Terdapat dua fase, fase atas Benzena dan fase bawah I2 pada fase atas Benzena bereaksi dengan I2 maka terjadi perubahan warna menjadi merah lembayung.
Minyak goreng dengan KMnO4 mengalami reaksi adisi dan terbentuk endapan coklat (K+ + MnO2).
Minyak goreng I2 mengalami reaksi adisi dan minyak teroksidasi.
Terbentuk 2 fase di atas, warna terbentuk warna merah lembayung 1,2 diodo heksena dan di bawah terdapat I2 berwarna kuning dan tidak dapat menyatu.
Terjadi reaksi substitusi dan terbentuk 2 fase di bawah terdapat I2 berwarna kuning dan fase atas berupa heptana yang tersubstitusi berupa ioda heptana berwarna lembayung.




4.2.      Reaksi – Reaksi

4.2.1.   Reaksi Benzena dan KMnO4
4.2.2.   Reaksi Benzena dan I2
4.2.3.   Reaksi Minyak Goreng dan KMnO4
4.2.4.   Reaksi minyak goreng dan I2

4.2.5.   Reaksi Heksena dan I2
4.2.6.   Reaksi Heptana dan I2           




4.3.    Pembahasan
            Reaksi adisi merupakan reaksi penghilangan ikatan rangkap dari suatu senyawa karbon. Pada reaksi adisi molekul senyawa yang mempunyai ikatan rangkap menyerap atom sehingga ikatan rangkap berubah, menjadi ikatan jenuh atau ikatan tunggal. Pada senyawa tak jenuh setelah menglami reaksi adisi akan menjadi senyawa jenuh.
Contoh:
CH8 = CH + H2                                               CH2 = CH2
CH2 = CH2 + H2                                             CH3 – CH3
Adisi: (penjenuhan) etuna dan etana oleh hydrogen.
            Reaksi substitusi, merupakan atom atau gugus atom yang terdapat dalam suatu molekul digantikan oleh atom atau gugus atom lain. Reaksi substitusi umumnya terjadi pada senyawa yang jenuh (semua ikatan karbon-karbon merupakan ikatan tunggal), tetapi dengan kondisi tertentu dapat juga terjadi pada senyawa tak jenuh.
CH3CH2OH + HCl (pekat)                           CH3CH2Cl + H2O
Penggantian gugus –OH oleh halogen.
            Dalam senyawa hidrokarbon terdapat senyawa hidrokarbon jenuh. Hidrokarbon jenuh adalah semua ikatan karbon-karbonnya merupakan ikatan tunggal yang terjadi pada senyawa alkana.
Contoh:
CH3 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
Sedangkan senyawa hidrokarbon tak jenuh adalah ikatan karbon-karbon yang mempunyai ikatan rangkap dua ataupun rangkap tiga yang terjadi pada senyawa alkena dan alkana.
Contoh:
CH3 – CH = CH2
Pada percobaan pertama, Benzena direaksikan dengan KMnO4, pada percobaan ini KMnO4 dan Benzena tidak bereaksi dikarenakan KMnO4 tidak mampu memutuskan ikatan rangkap pada Benzena yang merupakan senyawa hidrokarbon aromatic yang artinya ikatan rangkap pada Benzena berputar (berpindah) yang disebut delokalisasi. Tetapi walaupun Benzena dan KMnO4 tidak bereaksi tetapi pada percobaan laruatan terdapat dua fase, pada atas adalah larutan Benzena dan pada fase bawah adalah KMnO4.
KMnO4 tidak dapat bereaksi dengan Benzena yang seifatnya satbil karena KMnO4 tidak bias memutuskan ikatan rangkap yang terdapat dalam Benzena yang sering disebut cincin aromatic yang bersifat stabil.
Larutan tidak bereaksi dapat terlihat dari hasil reaksinya yang terdapat dua fase yang berarti kedua senyawa tersebut tidak bereaksi.
Pada percobaan kedua, benzene direaksikan dengan I2. Pada percobaan ini I2 berhasil bereaksi dengan Benzena dan hasilnay pada perxobaan ini terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah lembayung, akan tetapi yang bereaksi sangat sedikit. Itu dikarenakan kemampuan I2 untuk memutuskan ikatan rangkap pada Benzena hanya sedikit. Dan yang berfungsi sebagai reagen adalah KMnO4 dan I2 yang digunakan untuk memutuskan ikatan rangkap. Pada percobaan kedua Benzena direaksikan dengan I2. Larutan bereaksi dan itu termasuk reaksi adisi.
Pada percobaan ketiga, minyak goreng direaksikan dengan KMnO4. Pada percobaan ini minyak bereaksi dengan KMnO4 berubah menjadi warna cokelat dan terdapat endapan. Terjadinya endapan dikarenakan minyak teroksidasi dan fungsi reagen sebagai oksidator pada minyak yang berfungsi sebagai reagen adalah KMnO4. Minyak goreng direaksikan dengan KMnO4 bereaksi dan terjadi reaksi adisi. KMnO4 merupakan reduktor yang kuat sehingga bias melepaskan ikatan rangkap pada minyak goreng. Pada percobaan ketiga terjadi reaksi adisi.
Pada percobaan keempat, minyak goreng ditambhakan I2. Minyak goreng I2 pun bereaksi dan terjadinya perubahan warna menjadi orange dan terdapat endapatn. Fungsi I2 yang menjadi reagen sebagai oksidator pada minyak. Pada percobaan ke empat merupakan reaksi adisi.
Pada percobaan kelima, heksena direaksikan dengan I2. Percobaan bereaksi dan terdapat dua fase. Di fase atas berwarna merah lembayung yang disebabkan yang bereaksi dengan heksena sebagian dan pada fase bawah terdapat I2 yang masih dengan warna asalnya yaitu kuning dan ini merupakan reaksi adisi I2 berfungsi untuk memutuskan ikatan rangkap.
Pada percobaan keenam, heptana dengan I2. Heptana bereaksi dengan heptana dan terjadi reaksi substitusi. Hasil percobaan terdapat dua fase pada fase atas terjadi perubahan warna menjadi merah lembayung dan fase bawah terdapat larutan I2 yang berwarna kuning. Terjadi dua fase karena terjadinya perbedaan, pada heptana bersifat non polar dan I2 merupakan polar. Perambatan I2 berdungsi untuk menggantikan atom H.
Minyak goreng akan berbau tengik pada keadaan terbuak karena gugus atom atau senyawa minyak goreng teroksidasi oleh udara, sehingga ikatan rangkap pada minyak goreng terodisi menjadi ikatan tunggal. Kelama-lamaan minyak goreng berbau tengik kerna pemutasan ikatan rangkap.
Pada Benzena tidak dapt diadisi karena ikatan rangkap pada Benzena berputar yang disebut delokalisasi dan itu juga dikarenakan ikatan pada Benzena itu stabil. Oleh karena itu ikatan rangkap digunakan KMnO4 sebagai oksidator dalam percobaan itu karena KMnO4 merupakan oksidator yang kuat.
Kita dapat mengetahui reaksi adisi atau substitusi dari reaksi struktur awal senyawa tersebut, bila senyawa memiliki rangkap 2 bila direaksikan dengan halogen atau hidroksida ikatan rangkap tersebut dilepas dan mengikat halogen maka senyawa tersebut mengalami adisi. Sedangkan reaksi substitusi bila terjadi penggantian dari atom hydrogen dari senyawa hidrokarbon dengan senyawa lain seperti halogen.
Senyawa aromatic sederhana merupakan senyawa organic aromatic yang terdiri dari struktur cicin planar berkonjugasi dengan awan electron Pi yang berdelokalisasi. Banyak senyawa cincin aromatic sederhana yang mempunyai nama trivial. Biasanya, ia ditemukan sebagai substruktur molekul – molekul yang lebih kompleks. Senyawa aromatic sederhana yang umumnya ditemukan adalah Benzena dan indola.
Cincin aromatic sederhana dapat berupa senyawa heterosiklik apabila ia mengandung atom bukan karbon, ia dapat berupa monosiklik seperti benzene, bisiklik seperti naftalena ataupun polisiklik seperti antarasena.

o   Alkuna adalah hidrokarbon yang memiliki sebuah ikatan rangkap tiga.
    • Alkena adalah hifrokasbon yang memiliki ikatan rangkap dua.
    •  Alkadiena adalah hidrokarbon yang memiliki dua buah ikatan rangkap dua.




BAB 5
PENUTUP

5.1       Kesimpulan
-          Benzena dengan KMnO4, larutan ini tidak bereaksi dapat terlihat dari hasil reaksinya yang terdapat dua fase. Sedangkan pada Benzena dengan I2, larutan ini bereaksi, tetapi sangat sedikit. Ini dapat terlihat perubahan warna reagen I2 yang terdapat pada fase atas berwarna merah lembayung. Sedangkan fase bawah I2 berubah warna.
-          Karena KMnO4 tidak dapat bereaksi dengan Benzena yang sifatnya stabil karena KMnO4 tidak mampu memutuskan ikatan rangkap yang terdapat dalam cincin benzene yang bersifat stabil.
-          Minyak goreng bias berbau tengik dalam keadaan terbuka karena gugus atom atau senyawa minyak goreng teroksidasi oleh udara, sehingga ikatan rangkap pada minyak goreng terodisi menjadi ikatan tunggal. Kelama-lamaan berbau tengik karena pemutusan ikatan rangkap.                    

5.2.      Saran-Saran
            Bagi praktikan bisa menggantikan senyawa I2 dengan senyawa halogen yang lain, untuk memperluas pengetahuan kita seperti Cl2.




DAFTAR PUSTAKA

Fressenden, Joan, R. 1982. Kimia Organik edisi ke 3 jilid 2 Erlangga : Jakarta
Hart. Harold, dkk. 2003. Kimia Organik ed. Kesebelas. Erlangga : Jakarta
Keenan, W Charles. 1986 Ilmu Kimia Untuk Universitas. Erlangga : Jakarta
Raymond, Chang. 2005. Kimdas Konsep 2. Erlangga : Jakarta